Makassar-Watampone, Kamis 07 April 2016
Semalam menginap ditempat yang sama Sekretariat PC IMM Makassar Jl Mappaouddang dikarenakan pikiran dan tubuh tidak bisa diajak kompromi. Berbeda dari rencana sebelumnya yaitu menginap dirumah ridwan pawallang yang lokasinya tidak jauh dari kampus unismuh.
Ba'da subuh menjelang pagi saat langit masih gelap writer ditemani hasan keluar membeli kue dan kopi sachet untuk dikonsumsi bersama. Tidak seperti kemarin, karena diburu jadwal tes 08.00 maka kami tidak banyak bercakap.
Toefl (test of english as foreign language). Ini adalah kali pertama writer mengikuti tes toefl secara resmi dan untuk kali pertama pula dalam hidup writer dihapapkan pada tes tertulis paling tersulit yang pernah writer kerjakan. Aliran darah melalui pembuluh darah dari jantung menuju otak sungguh terasa, hampir-hampir aliran darah juga keluar melalui hidung saking sulitnya. Total 140 soal terdiri dari Listening comprehension, Paragraph text, Determinasi dengan durasi pengerjaan 90 menit. Alhasil setelah 90 menit berlalu pundak kaku karena tertunduk kebawah kearah soal, kaki kesemutan karena dijadikan sandaran alas menulis, mata perih karena memperhatikan dengan penuh konsentrasi dan rasa lapar teramat sangat karena komsumsi pikiran berlebih.
Makan dan istirahat adalah prioritas utama saat meninggalkan kampus PPS juga sembari menunggu hasan yang tes toeflx berbeda waktu dengan writer dan iful.
Setelah semua selesai barulah kami bertolak dari makassar. Hujan deras mengguyur dalam perjalanan pulang. Karena ada acara yang ingin kami hadiri malamnya maka mengindahkan derasnya hujan adalah opsi satu-satunya. Sedang tas berisi laptop, smartphone dan berkas penting writer bungkus dengan kantong ukuran jumbo yang writer singgah beli di warung tak jauh dari bahu jalan.
Dingin air hujan menembus hingga tulang sedang derasnya hujan membuat writer sulit untuk melihat jalan hingga sesekali ban motor membelah kubangan air bercampur lumpur berwarna cokelat terang. Mungkin karena hujan maka sepanjang jalan tidak terjadi macet. hujan deras berubah gerimis saat meninggalkan kota makassar dan berangsur hilang.
Jumlah kendaraan dijalan yang tidak banyak membuat kami leluasa untuk menaikkan kecepatan pada rerata 80-100km/jam hingga tiba di kota Watampone ba'da maghrib.
Setelah sholat dan berbenah dirumah writer mengunjungi acara W5 yang menjadi tujuan. Banyak yang writer jumpai disana termasuk teman semasa MAN namun kondisi yang kurang kondusif terpaksa writer bertolak. Insha Allah dikemudian hari akan writer berikan porsi waktu untuk bercakap dengan mereka.