Hidup memang telah digariskan oleh sang maha kuasa, tanpa
kuasa-Nya tiada yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang
akan datang namun dibalik itu semua telah tertera dan terpampang jelas
dalam firman-Nya juga dengan kehendak-Nya bahwa seseorang tidak akan
menuai hasil tanpa adanya usaha.
writer memang tidak betah jika tidak melakukan interaksi dalam sehari
dan hal itulah yang membuat writer berani menjustifikasi bahwa "Hidup
itu Indah namun tidak seindah kehidupan yang dijanjikan di akhirat". Hal
itu pulalah yang membuat hari ini semakin berkesan, seperti biasa motor
murahan berwarna putih yang sangat kubanggakan kukendarai ke taman kota
di pusat kota watampone, ditempat itu memang biasa kukunjungi untuk
sejenak membaca kondisi dan menilai perbandingan kota dan sekitarnya.
Setelah cadangan oksigen segar diotak kurasa cukup kuputuskan untuk
menengok saudara seorganisasiku bertempat di Jl. Sukawati tepatnya di
sekretariat Lembaga Kajian dan Advokasi Lintas Masyarakat (LEKAS) namun
hanya ada A. Saiful Marfian disana dikarenakan anggota lainnya sibuk
mengurusi kegiatan besar yang akan dilaksanakan tidak lama. untuk
melepaskan penat dan beban pikiran kami berdua pergi berkaraoke di
Apple.
Pukul 11.00 am Sepulang dari sekret LEKAS
kususuri jalan sukawati disana, jalan itu memang biasa kulalui jika
ingin pulang kerumah atau kekampus sedari sekretariat LEKAS. Nampak dari
kejauhan beberapa Polisi berpakaian rapi berjejeran di bahu jalan
sekitar 10 meter sebelum traffic light satu diantara mereka
menghentikan laju kendaraan yang kukendarai sedang lainnya berjaga
kalau-kalau writer tancap gas. "SIM dan STNK pak? tanyanya saat
kumatikan mesin motor, tentu saja jawaban dari pertanyaan pak Polisi
adalah saya tidak membawa kedua benda yang dimaksud.
setelah motor dipinggirkan di bahu jalan polisi memberikan surat tilang
untuk ditanda tangani sekaligus membayar denda Rp. 200 ribu rupiah
sebagai perwalian untuk disidangkan dan writer dapat membawa sepeda
motor saat itu juga. Namun surat tilang yang diberikan tidak kutanda
tangani serta writer tidak membayar denda apapun, writer lebih memilih
sidang tanpa perwalian. Karena motor disita maka kuputuskan untuk pulang
menaiki angkutan umum disekitar situ alias ojek, sebenarnya writer
sempat meminta ke polisi untuk diantarkan pulang tetapi agar tidak
mubassir es kelapa muda yang kubeli saat menunggu sweeping selesai
kuputuskan untuk membatalkan permintaan, sebelum itu kusempat sholat
dhuhur diMasjid tidak jauh dari situ kemudian pulang kerumah.
pukul 05.00 pm writer kepolres dengan tetap menggunakan baju kaos dan
celana jeans versi anak muda serampangan yang kugunakan saat ditilang
ditemani oleh A. Saiful Marfian yang kumintai bantuannya untuk
mengantarku kesana. Kedatanganku disana untuk mengambil barang yang
tertinggal di jok motor sembari memperjelas hal yang tidak sesuai dengan
hukum yang berlaku, maka secara sembunyi kuaktifkan cam. recorder untuk
mendapatkan pernyataan jelas dari bagian tilang POLRES Watampone.
Rabu, 11-12-2013, Watampone "Writer and Police"