Rabu, 11-12-2013, Watampone "Writer and Police"

 

      Hidup memang  telah digariskan oleh sang maha kuasa, tanpa kuasa-Nya tiada yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang namun dibalik itu semua telah tertera dan terpampang jelas dalam firman-Nya juga dengan kehendak-Nya bahwa seseorang tidak akan menuai hasil tanpa adanya usaha.

      writer memang tidak betah jika tidak melakukan interaksi dalam sehari dan hal itulah yang membuat writer berani menjustifikasi bahwa "Hidup itu Indah namun tidak seindah kehidupan yang dijanjikan di akhirat". Hal itu pulalah yang membuat hari ini semakin berkesan, seperti biasa motor murahan berwarna putih yang sangat kubanggakan kukendarai ke taman kota di pusat kota watampone, ditempat itu memang biasa kukunjungi untuk sejenak membaca kondisi dan menilai perbandingan kota dan sekitarnya.

      Setelah cadangan oksigen segar diotak kurasa cukup kuputuskan untuk menengok saudara seorganisasiku bertempat di Jl. Sukawati tepatnya di sekretariat Lembaga Kajian dan Advokasi Lintas Masyarakat (LEKAS) namun hanya ada A. Saiful Marfian disana dikarenakan anggota lainnya sibuk mengurusi kegiatan besar yang akan dilaksanakan tidak lama. untuk melepaskan penat dan beban pikiran kami berdua pergi berkaraoke di Apple.

      Pukul 11.00 am Sepulang dari sekret LEKAS kususuri jalan sukawati disana, jalan itu memang biasa kulalui jika ingin pulang kerumah atau kekampus sedari sekretariat LEKAS. Nampak dari kejauhan beberapa Polisi berpakaian rapi berjejeran di bahu jalan sekitar 10 meter sebelum traffic light satu diantara mereka menghentikan laju kendaraan yang kukendarai sedang lainnya berjaga kalau-kalau writer tancap gas. "SIM dan STNK pak? tanyanya saat kumatikan mesin motor, tentu saja jawaban dari pertanyaan pak Polisi adalah saya tidak membawa kedua benda yang dimaksud.

      setelah motor dipinggirkan di bahu jalan polisi memberikan surat tilang untuk ditanda tangani sekaligus membayar denda Rp. 200 ribu rupiah sebagai perwalian untuk disidangkan dan writer dapat membawa sepeda motor saat itu juga. Namun surat tilang yang diberikan tidak kutanda tangani serta writer tidak membayar denda apapun, writer lebih memilih sidang tanpa perwalian. Karena motor disita maka kuputuskan untuk pulang menaiki angkutan umum disekitar situ alias ojek, sebenarnya writer sempat meminta ke polisi untuk diantarkan pulang tetapi agar tidak mubassir es kelapa muda yang kubeli saat menunggu sweeping selesai kuputuskan untuk membatalkan permintaan, sebelum itu kusempat sholat dhuhur diMasjid tidak jauh dari situ kemudian pulang kerumah.

      pukul 05.00 pm writer kepolres dengan tetap menggunakan baju kaos dan celana jeans versi anak muda serampangan yang kugunakan saat ditilang ditemani oleh A. Saiful Marfian yang kumintai bantuannya untuk mengantarku kesana. Kedatanganku disana untuk mengambil barang yang tertinggal di jok motor sembari memperjelas hal yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku, maka secara sembunyi kuaktifkan cam. recorder untuk mendapatkan pernyataan jelas dari bagian tilang POLRES Watampone.
Rabu, 11-12-2013, Watampone "Writer and Police" 4.5 5 Laskar Merah Maroon       Hidup memang  telah digariskan oleh sang maha kuasa, tanpa kuasa-Nya tiada yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang ...